Rabu, 3 Juni 2026

IHSG Menuju 9.000? Efek Purbaya Ditopang Aliran Modal Asing dan Fundamental Ekonomi Kuat

Photo Author
Administrator, SuaroMinang.co
- Selasa, 4 November 2025 | 23:59 WIB
IHSG Menuju 9.000? Efek Purbaya Ditopang Aliran Modal Asing dan Fundamental Ekonomi Kuat
IHSG Menuju 9.000? Efek Purbaya Ditopang Aliran Modal Asing dan Fundamental Ekonomi Kuat

JAKARTA — Optimisme Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menyebut Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi menembus level 9.000 pada akhir 2025 kini mulai mendapat angin positif.

Arus modal asing yang kembali deras ke pasar modal Tanah Air memperkuat keyakinan bahwa target ambisius tersebut bukan sekadar harapan semu.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG pada Selasa (4/11/2025) memang sempat terkoreksi 0,40% ke posisi 8.241,91. Namun, di balik penurunan tipis ini, investor asing justru mencatatkan net buy besar-besaran mencapai Rp12,8 triliun sepanjang Oktober — menjadi arus masuk bulanan tertinggi dalam lebih dari satu tahun terakhir.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar global kembali memandang positif fundamental ekonomi Indonesia. Optimisme ini diperkuat dengan sejumlah indikator ekonomi yang solid, mulai dari inflasi rendah di 2,86% year-on-year, PMI manufaktur di level ekspansif 51,2, hingga surplus neraca perdagangan mencapai US$33,5 miliar.

Optimisme Purbaya Jadi Sinyal Pasar

Efek pernyataan Purbaya Yudhi Sadewa yang optimistis terhadap potensi IHSG 9.000 disebut analis sebagai “Efek Purbaya”, di mana komentar pejabat ekonomi senior dinilai mampu menggerakkan sentimen positif investor.

“Secara fundamental, pandangan Pak Purbaya cukup beralasan. Stabilitas ekonomi, inflasi terkendali, serta aliran dana asing yang kembali masuk menjadi faktor pendorong kuat,” kata Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Selasa (4/11/2025).

Menurutnya, target IHSG 9.000 lebih bersifat psikologis, namun secara teknikal, pasar memang menunjukkan tren bullish yang cukup kuat. “Kami melihat potensi pergerakan IHSG di kisaran 8.600–8.700 hingga akhir tahun, dengan bias positif menuju 2026,” jelasnya.

Dana Asing Jadi Motor Penggerak IHSG

Arus masuk investor asing menjadi sinyal penting yang menegaskan kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia. Dalam perdagangan terbaru, asing tercatat membeli saham-saham unggulan seperti BBCA, BBRI, TLKM, ASII, dan PTRO, dengan total pembelian harian mencapai lebih dari Rp1 triliun.

Menurut Liza, pola bullish reversal dalam IHSG masih terjaga. “Selama pola besar Cup & Handle ini bertahan, uji area 8.600 menjadi target realistis dalam waktu dekat,” katanya. Ia menambahkan, sektor perbankan dan infrastruktur berpotensi menjadi motor kenaikan berikutnya.

Faktor Pendukung Kenaikan IHSG

Menjelang akhir tahun, ada beberapa faktor yang berpotensi menjaga momentum positif IHSG. Pertama, musim belanja akhir tahun dan peningkatan mobilitas masyarakat jelang Natal dan Tahun Baru diprediksi akan menggerakkan roda konsumsi domestik.

Kedua, stimulus fiskal pemerintah yang diarahkan untuk memperkuat daya beli masyarakat juga menjadi katalis positif. Ketiga, ekspektasi inflasi masih berada dalam koridor Bank Indonesia, menjaga stabilitas nilai tukar dan suku bunga.

“Faktor tambahan seperti MSCI index rebalancing bulan November ini juga bisa menjadi penentu arah IHSG, terutama jika saham-saham kapitalisasi besar kembali masuk daftar,” tambahnya.

Risiko Global Masih Mengintai

Meski outlook pasar saham Indonesia masih positif, sejumlah risiko global tetap perlu diwaspadai. Di antaranya adalah ketidakpastian kebijakan The Fed, perlambatan ekonomi global, hingga potensi US government shutdown yang bisa menekan sentimen risiko investor global.

Selain itu, valuasi saham di beberapa sektor juga mulai masuk kategori mahal, terutama di saham perbankan dan consumer goods. “Investor tetap harus selektif dan memperhatikan risiko teknikal sebelum melakukan akumulasi,” ujar Liza.

Potensi Menuju Awal 2026: IHSG Tetap Resilient

Secara keseluruhan, analis memperkirakan IHSG masih berpeluang menutup tahun dengan performa positif, didukung aliran dana asing yang berkelanjutan dan fundamental ekonomi domestik yang kuat.

Target realistis masih di level 8.600–8.700, dengan peluang menguji 9.000 pada awal 2026 jika faktor eksternal dan kebijakan fiskal tetap kondusif.

“Yang penting bukan sekadar angka 9.000, tetapi arah pergerakan pasar yang tetap positif. Jika momentum ini terjaga, maka pasar saham Indonesia bisa memasuki era baru optimisme,” pungkas Liza.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Editor: Administrator

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X