Rabu, 3 Juni 2026

Dalam Tiga Bulan, Lima Warga Pasaman Barat Dilaporkan Hanyut di Sungai

Photo Author
Administrator, SuaroMinang.co
- Jumat, 16 Januari 2026 | 09:29 WIB
Dalam Tiga Bulan, Lima Warga Pasaman Barat Dilaporkan Hanyut di Sungai
Dalam Tiga Bulan, Lima Warga Pasaman Barat Dilaporkan Hanyut di Sungai

SUMBAR - Kabupaten Pasaman Barat kembali dilanda rentetan peristiwa tragis yang melibatkan warga hanyut di sejumlah sungai. Dalam rentang waktu sejak akhir November 2025 hingga pertengahan Januari 2026, tercatat lima orang dilaporkan terseret arus sungai di wilayah tersebut. Dari jumlah itu, empat korban ditemukan dalam keadaan meninggal dunia, sementara satu korban lainnya hingga kini belum berhasil ditemukan.

Serangkaian kejadian ini menimbulkan keprihatinan mendalam di tengah masyarakat, sekaligus menjadi peringatan akan tingginya risiko aktivitas di sekitar sungai, terutama saat kondisi cuaca tidak menentu dan debit air meningkat.

Peristiwa pertama terjadi pada 28 November 2025. Seorang pria bernama Islahuddin (30), warga Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, dilaporkan hanyut di Sungai Batang Batahan, tepatnya di wilayah Sigantang, Kecamatan Ranah Batahan. Saat kejadian, arus sungai diketahui cukup deras akibat curah hujan tinggi di wilayah hulu.

Tim pencarian gabungan yang terdiri dari unsur SAR, BPBD, TNI, Polri, serta masyarakat setempat langsung diterjunkan untuk melakukan upaya pencarian. Setelah dua hari penyisiran, jasad Islahuddin akhirnya ditemukan pada 30 November 2025. Korban ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa, menutup operasi pencarian dengan duka mendalam bagi keluarga.

Musibah serupa kembali terjadi pada 9 Desember 2025. Seorang warga bernama Aper (45), yang berasal dari Batang Saman, Kecamatan Pasaman, dilaporkan hanyut di Sungai Batang Pasaman. Insiden ini kembali memicu kekhawatiran warga, mengingat sungai tersebut kerap digunakan untuk berbagai aktivitas sehari-hari.

Memasuki awal tahun 2026, tragedi hanyut di sungai belum juga berhenti. Pada 1 Januari 2026, Arisman (45), warga Kampung Mangkumang Datar, Jorong Pembangunan, Nagari Cubadak Barat, Kecamatan Dua Koto, terseret arus Sungai Batang Saman. Upaya pencarian dilakukan selama beberapa hari dengan menyisir aliran sungai hingga ke wilayah hilir. Pada 3 Januari 2026, jasad Arisman akhirnya ditemukan, mengakhiri pencarian dengan kabar duka.

Namun, peristiwa yang paling menyayat hati terjadi pada 3 Januari 2026. Rama (13), seorang bocah asal Ujung Gading, Kecamatan Lembah Melintang, dilaporkan hanyut di Sungai Batang Sikerbau. Hingga Jumat, 16 Januari 2026, keberadaan Rama masih belum diketahui. Keluarga korban dan warga sekitar terus diliputi kecemasan dan kesedihan mendalam.

Proses pencarian Rama melibatkan berbagai pihak, termasuk tim SAR dan relawan. Namun, derasnya arus sungai serta luasnya area pencarian menjadi tantangan besar. Setelah tujuh hari pencarian tanpa hasil, BPBD Pasaman Barat secara resmi menghentikan operasi pencarian.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Pasaman Barat, Zulkarnain, menjelaskan bahwa penghentian tersebut dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Ia merujuk pada Peraturan Kepala BNPB Nomor 13 Tahun 2010, yang menyebutkan bahwa operasi pencarian dan pertolongan dapat dihentikan setelah tujuh hari apabila tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan korban.

Sementara itu, korban terakhir dalam rangkaian kejadian ini adalah Nurul (12), warga Simpang Gadang, Kecamatan Sungai Aur. Ia dilaporkan hanyut di Sungai Batang Simpang Gadang pada 12 Januari 2026. Berbeda dengan kasus lainnya, korban berhasil ditemukan pada hari yang sama, namun dalam kondisi meninggal dunia.

Kepala Pos SAR Pasaman Barat, Randi, menegaskan bahwa pihaknya selalu siap siaga dalam setiap kejadian darurat. Ia menyatakan tim SAR akan terus memberikan respons cepat terhadap laporan warga, meskipun kondisi medan dan cuaca sering kali menjadi kendala.

Rentetan peristiwa ini menjadi peringatan keras bagi masyarakat Pasaman Barat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat beraktivitas di sekitar sungai. Sungai yang selama ini menjadi sumber kehidupan, transportasi, dan mata pencaharian, juga menyimpan potensi bahaya besar apabila tidak dihadapi dengan kehati-hatian.

Pemerintah daerah pun diharapkan dapat memperkuat upaya mitigasi bencana serta edukasi kepada masyarakat, agar tragedi serupa tidak terus berulang di masa mendatang.

Editor: Administrator

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini

X