sumbar

Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah: Falsafah Hidup Orang Minang yang Tetap Relevan di Zaman Modern

Kamis, 28 Mei 2026 | 16:48 WIB

SUMBAR, suarominang.co — Masyarakat Minangkabau dikenal sebagai salah satu suku di Indonesia yang memiliki falsafah hidup kuat dan diwariskan turun-temurun. Falsafah tersebut adalah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” atau yang sering disingkat ABS-SBK.

Ungkapan ini memiliki makna mendalam bahwa adat dan budaya Minangkabau harus berlandaskan ajaran Islam, sementara syariat Islam berpedoman kepada Al-Qur’an sebagai sumber utama hukum.

Secara harfiah, Adat Basandi Syarak berarti adat bersendi atau berlandaskan syariat Islam. Sedangkan Syarak Basandi Kitabullah bermakna bahwa syariat Islam yang dijalankan masyarakat harus berpijak kepada Kitabullah, yakni Al-Qur’an.

Falsafah ini menjadi pondasi utama dalam kehidupan masyarakat Minang, baik dalam hubungan sosial, pendidikan, budaya, hingga sistem kepemimpinan adat. Tidak hanya sekadar slogan, ABS-SBK telah menjadi identitas dan jati diri orang Minangkabau sejak ratusan tahun lalu.

Dalam praktik kehidupan sehari-hari, masyarakat Minang menjadikan nilai agama sebagai pedoman dalam menjalankan adat istiadat. Segala aturan adat yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadis dianggap tidak dapat dipertahankan.

Prinsip ini juga melahirkan pepatah terkenal di Ranah Minang, yakni “Syarak Mangato, Adat Mamakai”. Artinya, syariat Islam memberikan ketentuan atau ajaran, sedangkan adat menjalankan dan menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat.

Karena itu, hubungan antara adat dan agama di Minangkabau tidak dipisahkan, melainkan saling menguatkan. Nilai-nilai sopan santun, musyawarah, menghormati orang tua, hingga semangat gotong royong tumbuh dari perpaduan adat dan ajaran Islam tersebut.

Di tengah perkembangan zaman dan arus modernisasi, banyak tokoh adat dan ulama Minangkabau mengingatkan pentingnya menjaga falsafah ABS-SBK agar generasi muda tidak kehilangan identitas budaya dan nilai keislaman.

Falsafah ini dinilai tetap relevan sebagai pedoman hidup masyarakat, terutama dalam menghadapi tantangan sosial, budaya, dan perkembangan teknologi di era modern saat ini.

Bagi masyarakat Minang, ABS-SBK bukan sekadar warisan leluhur, tetapi juga menjadi pedoman moral dan spiritual dalam menjaga keharmonisan kehidupan bermasyarakat.

Terkini