opini

Bersyukur Masih Nomor Dua

Kamis, 13 Februari 2025 | 20:30 WIB






Jakarta - Beberapa hari lalu saya membaca sebuah data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) tentang pendidikan. Dalam rilis tersebut dijelaskan bahwa Suku Batak merupakan etnik yang paling tinggi menamatkan pendidikan sarjana strata satu (S1), disusul suku Minangkabau.
Selisih capaian kedua etnik ini tak jauh beda, hanya 0,02 persen, yaitu Batak 18,02 persen dan Minang 18 persen. Namun bila dilihat dari jumlah atau kuantitas orang, maka angka 0,02 persen itu tentu lumayan besar jumlahnya.





Selengkapnya data BPS 2024 tentang 10 etnis utama di Indonesia dengan lulusan sarjana terbesar adalah sebagai berikut: Suku Batak (18,02%), Suku Minangkabau (18,00%), Suku Bali (14,54%), Suku Bugis (14,54%), Suku Betawi (14,38%), Suku Melayu (12,67%), Suku Banjar (11,24%), Suku Jawa (9,56%), Suku Sunda (7,59%), dan Suku Madura (4,15%). Cara memahami data ini adalah, dari setiap 100 orang Batak ada 18,02 sarjana, dari setiap 100 orang Minang ada 18 sarjana, dan dari setiap 100 orang Jawa ada 9,56 sarjana. Lebih konkretnya, proporsi jumlah sarjana dibandingkan jumlah penduduk Suku Batak dan Sukku Minang hampir dua kali lipat Suku Jawa.





Minangkabau, sesungguhnya jauh sebelum kemerdekaan telah menukilkan banyak prestasi dalam bidang pendidikan dan banyak menyumbangkan putra putri terbaiknya dalam merintis dan memperjuangkan kemerdekaan, tentu patut melakukan introspeksi atau muhasabah dengan kondisi ini. Dalam laporan utama Majalah Tempo tanggal 12 Juli 1986, disebutkan bahwa jumlah sekolah di Sumatera Barat tahun 1925, jauh sebelum kemerdekaan, sama banyaknya dengan jumlah sekolah di Pulau Jawa dan Madura.





Selain jumlah sekolah, pendidikan di kalangan perempuan juga membanggakan. Ibu Rahmah El-Yunusiah sempat membuat Syekh Universitas Al Azhar terkagum-kagum, karena di saat mereka belum memulai pendidikan untuk kalangan perempuan, Rahmah sudah mendirikan sekolah Diniyah Puteri untuk kalangan perempuan di Padang Panjang. Dan jauh sebelumnya, bahkan Ruhana Kudus sudah menerbitkan dan memimpin koran Soenting Melajoe dan medirikan sekolah keterampilan kaum perempuan Amai Setia di Koto Gadang, di saat buta huruf masih menyelimuti sebagian besar kaum perempuan Indonesia






Success strory dunia pendidikan etnik Minang ini terus berlanjut, sehingga sempat menjadi pusat bersekolah, tidak saja bagi masyarakat Sumatera tapi juga bagi masyarakat lain di seantero Indonesia. Beberapa sekolah yang sangat populer di antaranya adalah Diniyah Putri Padang Panjang, Thawalib Padang Panjang, Parabek dan Padang Japang, MTI di Canduang, INS Kayu Tanam, dan beberapa sekolah bikinan Belanda di Padang dan Bukittinggi.





Sejak akhir abad ke-19 hingga akhir masa pendudukan Belanda, hanya ada dua sekolah guru (Kweekschool) di Indonesia. Satu berada di Bandung dan satunya ada di Fort de Kock atau Bukittinggi. Kweekshool Fort de Kock oleh orang Minang disebut juga Sekolah Rajo atau Sekolah Raja. Kedua sekolah inilah yang menghasilkan guru yang kemudian menyebar ke berbagai daerah di Nusantara.





Jauh sebelum kemerdekaan sudah banyak orang Minang menuntut ilmu ke berbagai negara, utamanya di Timur Tengah dan Negeri Belanda. Sebutlah Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabauwi, Syekh Yassin Al-Fadani, Syekh Djamil Djambek, Syekh Abdul Karim Amrullah, Iljas Jacoub, Muchtar Luthfi, serta Dr. M. Djamil, Dr. A. Rivai, Prof. Dr. Achmad Mochtar, Tan Malaka, Bung Hatta, Baginda Dahlan Abdullah (Gubernur pertama Jakarta), Nazir Pamontjak, Mr. Assaat, Sutan Sjahrir, dan lain-lain.

Halaman:

Tags

Terkini

Israel, Preman Dunia yang Kebal Hukum?

Jumat, 22 Mei 2026 | 07:08 WIB

Manfaat Kopi : Lebih dari Sekedar Minuman

Kamis, 1 Mei 2025 | 12:00 WIB

Bersyukur Masih Nomor Dua

Senin, 24 Februari 2025 | 09:43 WIB

Bersyukur Masih Nomor Dua

Kamis, 13 Februari 2025 | 20:30 WIB

Bukalapak Tutuplapak Jatuh Bangun E-Commerce

Jumat, 31 Januari 2025 | 08:14 WIB