Rabu, 3 Juni 2026

Bersyukur Masih Nomor Dua

Photo Author
Fred, SuaroMinang.co
- Kamis, 13 Februari 2025 | 20:30 WIB




Keunggulan dalam bidang pendidikan itulah yang menyebabkan jumlah Founding Father (Bapak Bangsa) dan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia yang berasal berasal dari Ranah Minang begitu menonjol. Jumlah dan peran mereka begitu menonjol adalah karena mereka lebih dulu maju dan tradisi bersekolah/berpikir telah lebih lama tumbuh dalam masyarakat Minangkabau.





Setelah kemerdekaan tahun 1945, orang Minang banyak menuntut Ilmu di Universitas Gajah Mada yang di anggap lebih Republiken dan nasionalis. Ayah saya adalah satu di antaranya. Kebetulan Peraturan Pemerintah (PP) dan Statuta Pendirian UGM tanggal 14 Agustus 1949 ditanda-tangani oleh Penjabat Presiden RI Mr. Assaat yang tak lain adalah putra Minang pula.





Dalam buku Siapa & Mengapa Sejumlah Alumni UGM (1999) yang diterbitkan dalam rangka peringatan setengah abad UGM, dari sekitar 230-an alumni UGM yang dianggap menonjol, ternyata sekitar 10 persen adalah orang Minang seperti Hasan Basri Durin, Prof. Dr. Taufik Abdullah, Kamardi Arief, dan banyak lagi.





Bayangkan, dari sebuah universitas tertua dan terkemuka di Indonesia di tengah Pulau Jawa, sebanyak 10 persen alumninya yang menonjol adalah orang Minang. Dalam sejarah Universitas Indonesia, khususnya Fakultas Kedokteran, peranan putra-putri Minang juga cukup menonjol.





Menurut temuan Dr. Mochtar Naim dalam buku "Merantau" (1984), dari daftar tamatan Fakultas Kedokteran UI (1950-1970), orang Minang menempati jumlah ketiga terbanyak setelah etnis Jawa dan China. Dalam buku Ensiklopedia Tokoh 1001 Orang Minang (2023) disebutkan, dari 15 dekan Fakultas Kedokteran UI sejak 1950 sampai sekarang, lima adalah orang Minang.





Bersekolah atau menuntut ilmu bagi masyarakat Minang, tak terbatas hanya dalam negeri, tapi juga hingga manca negara. Pokoknya sekolah itu penting dan sekolahlah yang mengubah corak hidup dan masa depan. Itu menurut pandangan mereka yang sejalan dengan ungkapan adat: Karatau Madang di hulu, babuah babungo balun, marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun.





Dan salah satu tujuan merantau adalah untuk menuntut ilmu. Dalam perkembangan selanjutnya, Sumatera Barat pernah menjadi daerah pengirim guru yang banyak ke berbagai wilayah tanah air dan bahkan sampai ke Malaysia.


Halaman:

Editor: Fred

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

Israel, Preman Dunia yang Kebal Hukum?

Jumat, 22 Mei 2026 | 07:08 WIB

Manfaat Kopi : Lebih dari Sekedar Minuman

Kamis, 1 Mei 2025 | 12:00 WIB

Bersyukur Masih Nomor Dua

Senin, 24 Februari 2025 | 09:43 WIB

Bersyukur Masih Nomor Dua

Kamis, 13 Februari 2025 | 20:30 WIB

Bukalapak Tutuplapak Jatuh Bangun E-Commerce

Jumat, 31 Januari 2025 | 08:14 WIB

Terpopuler

X