JAKARTA, suarominang.co Pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa “rakyat di desa tidak pakai dolar” saat menanggapi pelemahan rupiah memang terdengar menenangkan. Namun secara ekonomi, pernyataan itu terlalu menyederhanakan persoalan. Faktanya, masyarakat desa justru bisa menjadi kelompok yang paling terdampak, meski tidak pernah memegang uang dolar sekalipun.
Mengapa? Karena pelemahan rupiah terhadap dolar AS berdampak langsung pada harga barang impor dan bahan baku. Indonesia masih bergantung pada impor untuk sejumlah kebutuhan strategis: BBM, LPG, kedelai, gandum, bahan baku obat, hingga pakan ternak. Ketika dolar naik dan rupiah melemah, biaya impor ikut melonjak. Dampaknya bukan hanya dirasakan pengusaha besar, tapi sampai ke warung kecil dan dapur rumah tangga di desa.
Contoh paling nyata adalah energi. BBM nonsubsidi sangat sensitif terhadap kurs dolar karena minyak mentah diperdagangkan dalam dolar AS. Bahkan Kementerian ESDM sendiri mengakui tekanan kurs dapat memengaruhi harga energi.
Kenaikan biaya energi memicu efek domino: ongkos transportasi naik, biaya distribusi hasil pertanian meningkat, harga pupuk berpotensi naik, harga sembako ikut terdorong. Petani di desa mungkin tak menukar rupiah ke dolar, tapi mereka membeli pupuk, solar, dan kebutuhan produksi yang harganya dipengaruhi dolar.
Begitu juga pangan. Indonesia masih mengandalkan impor untuk komoditas tertentu seperti gandum dan kedelai. Harga mie instan, tahu, tempe, pakan ayam, hingga telur bisa ikut terdampak. Jadi mengatakan rakyat desa aman karena tak memakai dolar justru mengabaikan bagaimana sistem ekonomi bekerja.
Pasar juga melihat pelemahan rupiah sebagai indikator kepercayaan terhadap ekonomi. Saat rupiah melemah tajam hingga kisaran Rp17.500-an per dolar AS, tekanan pada investor, dunia usaha, dan APBN meningkat. Pada akhirnya, jika penerimaan negara tertekan atau subsidi membengkak, masyarakat bawah yang paling merasakan.
Optimisme pemerintah tentu penting. Tetapi publik juga butuh pengakuan jujur bahwa pelemahan rupiah bukan sekadar masalah orang yang bepergian ke luar negeri. Ini menyangkut harga kebutuhan pokok jutaan rakyat.
Karena pada akhirnya, "rakyat desa memang tidak belanja pakai dolar—tapi mereka hidup dalam ekonomi yang dihitung dengan dampak dolar."
Sumber : CNBC Indonesia