Jakarta, Suarominang.co – PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA mencatat kerugian sebesar Rp483,8 miliar selama tiga bulan pertama tahun 2026. Kerugian tersebut berkaitan dengan kepemilikan saham perseroan di PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), perusahaan yang menjadi pemegang saham mayoritas PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), operator layanan kereta cepat Whoosh.
Berdasarkan laporan yang dipublikasikan, tekanan terhadap kinerja WIKA berasal dari metode pencatatan investasi pada entitas asosiasi, khususnya yang terkait proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.
PSBI sendiri merupakan konsorsium BUMN Indonesia yang memiliki peran penting dalam proyek strategis nasional kereta cepat. Karena WIKA memiliki kepemilikan saham di perusahaan tersebut, maka kinerja keuangan PSBI turut memengaruhi laporan keuangan WIKA.
Kerugian ini tercatat dalam laporan keuangan kuartal pertama 2026, di tengah upaya perseroan melakukan restrukturisasi dan perbaikan kondisi keuangan perusahaan.
Meski demikian, operasional Whoosh sebagai layanan transportasi publik tetap berjalan normal. Dampak kerugian yang dicatat WIKA lebih berkaitan pada aspek investasi dan pembukuan perusahaan, bukan penghentian operasional kereta cepat.
Proyek Whoosh sejak awal menjadi salah satu proyek infrastruktur besar yang menyedot perhatian publik, baik dari sisi pembiayaan, pembangunan, hingga prospek bisnis jangka panjangnya.
Manajemen WIKA sebelumnya juga terus melakukan berbagai langkah efisiensi dan penataan keuangan untuk memperkuat fundamental perusahaan di tengah tantangan industri konstruksi nasional.
Kerugian ini kembali memunculkan diskusi mengenai beban investasi proyek infrastruktur besar terhadap kesehatan keuangan BUMN, khususnya perusahaan konstruksi yang terlibat dalam proyek strategis pemerintah.