Rabu, 3 Juni 2026

Jejak Wakaf Baitul Asyi: Warisan Ulama Aceh di Tanah Suci yang Masih Menghidupi Jemaah Haji hingga Kini

Photo Author
Rizaldi Chan, SuaroMinang.co
- Sabtu, 16 Mei 2026 | 08:28 WIB

Banda Aceh/Makkah, suarominang.co  – Nama Baitul Asyi kembali menjadi sorotan setiap musim haji, terutama ketika ribuan jemaah asal Aceh menerima dana manfaat wakaf miliaran rupiah. Namun, tak banyak yang mengetahui bahwa di balik pembagian dana tersebut tersimpan kisah panjang seorang dermawan Aceh yang mewakafkan hartanya di Makkah lebih dari dua abad lalu.

Siapa Pendiri Baitul Asyi?

Baitul Asyi merupakan wakaf yang didirikan oleh Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi, yang lebih dikenal dengan nama Habib Bugak Asyi. Ia adalah ulama dan saudagar asal Gampong Bugak, Kabupaten Bireuen, Aceh, yang hidup pada abad ke-18 hingga awal abad ke-19.

Habib Bugak dikenal sebagai tokoh kaya raya yang memiliki kepedulian besar terhadap masyarakat Aceh, khususnya para penuntut ilmu dan jemaah haji yang datang ke Makkah. Pada masa itu, perjalanan haji sangat berat, memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Karena prihatin melihat banyak orang Aceh kesulitan mendapatkan tempat tinggal saat berada di Tanah Suci, Habib Bugak mewakafkan hartanya untuk membeli properti di Makkah.

Apa Itu Baitul Asyi?

Baitul Asyi secara harfiah berarti “Rumah Orang Aceh.” Wakaf ini awalnya berupa rumah penginapan yang diperuntukkan khusus bagi masyarakat Aceh yang datang ke Makkah, baik untuk berhaji maupun menuntut ilmu agama.

Dalam dokumen sejarah, wakaf ini didirikan sekitar tahun 1809 dan dikelola berdasarkan hukum wakaf di Arab Saudi.

Aset Baitul Asyi

Dulu, aset utama Baitul Asyi berupa bangunan penginapan di sekitar kawasan Jarwal, dekat Masjidil Haram, Makkah.

Namun seiring perkembangan kota Makkah, kawasan lama tersebut terkena proyek perluasan besar-besaran oleh pemerintah Arab Saudi.

Aset lama kemudian diganti rugi, dan dana kompensasi itu dipakai untuk investasi properti baru yang dikelola secara profesional.

Saat ini, aset wakaf Baitul Asyi disebut berkembang menjadi:

Properti dan investasi real estate di Makkah

Dana pengelolaan wakaf produktif

Hasil investasi yang dibagikan kepada jemaah Aceh setiap musim haji

Nilai total asetnya tidak diumumkan secara rinci ke publik, namun hasil pengelolaannya mampu menyalurkan jutaan riyal setiap tahun.

Kenapa Hanya untuk Jemaah Aceh?

Ini sesuai amanat wakaf dari pendirinya. Dalam ikrar wakaf, manfaatnya memang diperuntukkan bagi masyarakat Aceh yang berada di Makkah.

Karena itu, penerima manfaat umumnya adalah jemaah haji asal embarkasi Aceh.

Tradisi yang Bertahan Ratusan Tahun

Tahun 2026, jemaah haji Aceh kembali menerima 2.000 riyal Saudi per orang atau sekitar Rp9,3 juta, melanjutkan tradisi panjang yang sudah berlangsung turun-temurun.

Warisan Habib Bugak Asyi menjadi salah satu contoh nyata bagaimana wakaf produktif bisa terus memberi manfaat lintas generasi.

Sumber rujukan: arsip sejarah Aceh, PPIH Aceh, Kementerian Agama, dan catatan pengelolaan wakaf Baitul Asyi.

Editor: Rizaldi Chan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Terkini

X