Rabu, 3 Juni 2026

Perang AS-Iran Memanas, Harga Minyak Melonjak dan Ekonomi Global Tertekan

Photo Author
Administrator, SuaroMinang.co
- Rabu, 29 April 2026 | 13:44 WIB
Perang AS-Iran Memanas, Harga Minyak Melonjak dan Ekonomi Global Tertekan
Perang AS-Iran Memanas, Harga Minyak Melonjak dan Ekonomi Global Tertekan

SUAROMINANG.CO – Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terus memanas. Hingga hari ke-60, belum ada tanda-tanda perdamaian.

Negosiasi masih berjalan di tempat, sementara dampaknya semakin terasa di pasar global. Para analis memperingatkan, perang yang berkepanjangan dapat memicu gangguan ekonomi dalam jangka panjang. Harga energi melonjak, inflasi meningkat, dan rantai pasok global mulai terganggu.

Selat Hormuz Ditutup, Jalur Energi Dunia Lumpuh


Iran menutup Selat Hormuz setelah serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari. Jalur strategis ini menjadi pintu utama bagi sekitar 20 persen ekspor minyak dan gas dunia.

Selain minyak, berbagai komoditas penting seperti pupuk, bahan kimia, semen, hingga biji-bijian juga melewati jalur tersebut. Akibatnya, gangguan distribusi langsung mendorong kenaikan harga di berbagai sektor.

Di sisi lain, Amerika Serikat memperketat blokade terhadap ekspor minyak Iran. Langkah ini semakin memperumit situasi dan memperpanjang kebuntuan.

Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam


Ketidakpastian geopolitik langsung mendorong harga minyak ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

  • Minyak mentah WTI menembus US$100,09 per barel.

  • Minyak Brent melonjak ke US$111,85 per barel.


Sebelum konflik pecah, harga WTI masih berada di kisaran US$67,02. Sementara itu, Brent diperdagangkan di level US$72,87.

Rachel Ziemba dari Center for a New American Security menilai peluang penyelesaian cepat sangat kecil.

"Negosiasi masih terhenti dan solusi jangka pendek sulit tercapai."

Harga Bensin di Amerika Serikat Ikut Naik


Lonjakan minyak mentah langsung berdampak pada harga bahan bakar di Amerika Serikat. Rata-rata harga bensin nasional kini mencapai US$4,18 per galon. Angka ini naik tajam dari US$2,92 pada akhir Februari.

Kenaikan tersebut menjadi level tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir. Konsumen Amerika pun mulai merasakan tekanan besar pada biaya hidup.

Inflasi Global Kembali Mengancam


Kenaikan harga energi mendorong inflasi di berbagai negara. Indeks harga konsumen Amerika Serikat naik menjadi 3,3 persen secara tahunan, tertinggi sejak Mei 2024.

Ekonom Oxford Economics, Bernard Yaros, memperkirakan efek domino akan terus berlanjut sepanjang tahun depan. Harga energi yang tinggi akan menekan biaya produksi, jasa, dan upah.

Akibatnya, tekanan inflasi berpotensi bertahan lebih lama dari perkiraan sebelumnya.

UEA Keluar dari OPEC, Pasar Semakin Bergejolak


Di tengah krisis, Uni Emirat Arab resmi keluar dari OPEC dan OPEC+ mulai 1 Mei.
Keputusan ini muncul setelah perbedaan pandangan dengan Arab Saudi terkait kuota produksi. UEA ingin meningkatkan produksi minyaknya.

Namun, penutupan Selat Hormuz membuat ekspor tambahan tersebut sulit terealisasi. Untuk saat ini, pasar tetap menghadapi tekanan besar.

Pertumbuhan Ekonomi Dunia Melambat


Oxford Economics memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 menjadi 2,4 persen.
Sebelumnya, lembaga itu memperkirakan angka yang lebih tinggi. Gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz menjadi faktor utama revisi tersebut.

Harga minyak Brent diperkirakan rata-rata bertahan di kisaran US$113 per barel pada kuartal ini sebelum turun di akhir tahun. Meski begitu, proses pemulihan pasokan energi diprediksi memakan waktu berbulan-bulan.

Rantai Pasok Global Terancam


Gangguan tidak hanya terjadi pada sektor energi. Sekitar 11 persen perdagangan maritim dunia melintasi Selat Hormuz setiap tahun. Penutupan jalur ini mengancam pasokan berbagai komoditas penting.
Sektor yang paling rentan meliputi:

  • Industri manufaktur

  • Otomotif

  • Farmasi

  • Pupuk

  • Kimia

  • Pertanian


Konsultan rantai pasok David Coffey bahkan mulai melihat rak-rak toko di sejumlah wilayah tidak terisi penuh.

Dampak Politik bagi Donald Trump


Krisis ini juga mengguncang politik Amerika Serikat. Tingkat persetujuan publik terhadap Presiden Donald Trump turun menjadi 34 persen. Dukungan terhadap penanganan biaya hidup bahkan merosot ke angka 22 persen.
Situasi ini dapat memengaruhi pemilu paruh waktu yang akan digelar pada November mendatang.

Ancaman Gangguan Jangka Panjang


Para pelaku industri kini mulai mencari alternatif sumber pasokan. Namun, mengganti pasokan energi bukan perkara mudah.

David Coffey menegaskan, pemulihan distribusi membutuhkan waktu lama, bahkan jika konflik berakhir hari ini.
Tanpa solusi diplomatik yang jelas, dunia harus bersiap menghadapi tekanan ekonomi berkepanjangan.

 




Pantau terus berita terbaru, informasi akurat, dan perkembangan terkini hanya di suaro minang dot co. Jangan lewatkan update penting setiap harinya untuk tetap terinformasi dan waspada.

Sumber : Aljazeera
Editor : Putra Piasaulu

Editor: Administrator

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X