Rabu, 3 Juni 2026

Harga Minyak Turun di Tengah Harapan Kesepakatan Damai AS-Iran

Photo Author
Administrator, SuaroMinang.co
- Senin, 25 Mei 2026 | 16:02 WIB
Harga Minyak Turun di Tengah Harapan Kesepakatan Damai AS-Iran
Harga Minyak Turun di Tengah Harapan Kesepakatan Damai AS-Iran

INTERNASIONAL - Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam setelah muncul harapan baru terkait kemungkinan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Pasar energi global langsung merespons sinyal tersebut dengan optimisme, meski pelaku pasar masih menunggu kepastian resmi dari kedua negara.

Pasar Global Merespons Sinyal Positif dari Washington dan Teheran


Minyak mentah Brent, yang menjadi acuan harga minyak global, turun lebih dari 5 persen pada perdagangan hari Minggu. Penurunan itu terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pernyataan yang membuka peluang berakhirnya konflik AS-Israel dengan Iran.

Kontrak berjangka Brent untuk Juli tercatat berada di level 97,94 dolar AS per barel pada pukul 04.00 GMT. Angka tersebut memang lebih rendah dibanding bulan lalu. Namun harga minyak masih naik lebih dari sepertiga dibandingkan sebelum perang pecah pada akhir Februari.

Di sisi lain, pasar saham Asia langsung mencatat penguatan signifikan. Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak lebih dari 3 persen dan mencetak rekor tertinggi baru dalam perdagangan pagi. Investor melihat peluang meredanya konflik sebagai sentimen positif bagi ekonomi global.

Trump Beri Sinyal Campuran Soal Kesepakatan Damai


Presiden Donald Trump mengeluarkan pernyataan yang memunculkan optimisme sekaligus kehati-hatian di pasar global. Dalam unggahan di Truth Social, Trump mengatakan negosiasi dengan Teheran berlangsung “tertib dan konstruktif”.

Namun demikian, ia meminta para pejabat AS agar tidak terburu-buru menyelesaikan kesepakatan. Trump menegaskan bahwa kedua pihak harus memastikan seluruh proses berjalan dengan benar.

“Kedua belah pihak harus meluangkan waktu dan melakukannya dengan benar. Tidak boleh ada kesalahan,” tulis Trump.

Sebelumnya, Trump sempat meningkatkan harapan pasar setelah menyebut sebagian besar poin kesepakatan sudah selesai dinegosiasikan. Salah satu poin utama yang menjadi perhatian dunia adalah pembukaan kembali Selat Hormuz.

Pernyataan tersebut langsung memengaruhi pergerakan harga minyak. Investor menilai pembukaan jalur pelayaran itu dapat mengembalikan stabilitas distribusi energi global.

Selat Hormuz Jadi Kunci Stabilitas Energi Dunia


Selat Hormuz memiliki peran vital dalam perdagangan minyak dunia. Jalur laut itu menjadi rute utama pengiriman minyak mentah dari Timur Tengah ke berbagai negara.

Sejak perang pecah pada akhir Februari, Iran secara efektif memblokade kawasan tersebut. Kondisi itu mengganggu hampir seperlima perdagangan minyak global. Akibatnya, harga energi melonjak dan memicu kekhawatiran pasar internasional.

Selain blokade dari Iran, Amerika Serikat juga memberlakukan pembatasan terhadap pelabuhan Iran sejak pertengahan April. Kebijakan itu semakin memperumit aktivitas pengiriman komersial di kawasan Teluk.

Meski muncul sinyal damai, para analis menilai situasi belum sepenuhnya aman. Pasar masih mempertimbangkan risiko geopolitik yang dapat berubah sewaktu-waktu.

Analis pasar minyak senior Sparta di Singapura, June Goh, mengatakan pasar belum melihat perubahan besar terhadap kondisi dasar pasokan energi global.

“Pada dasarnya, tidak ada perubahan pada gambaran mendasar. Sekitar 10 hingga 11 juta barel minyak mentah per hari masih tertahan selama Selat Hormuz tetap tertutup,” ujar Goh.

Pasar Menunggu Kepastian Pembukaan Jalur Minyak


Pelaku pasar kini fokus terhadap kemungkinan dibukanya kembali jalur perdagangan minyak di Selat Hormuz. Jika kesepakatan tercapai, kapal-kapal pengangkut minyak yang selama ini tertahan diperkirakan kembali beroperasi.

Menurut June Goh, pasar berharap sekitar 100 juta barel minyak mentah yang saat ini tertahan dapat segera mengalir ke pasar global setelah kesepakatan resmi diumumkan.

Meski begitu, pemulihan distribusi energi tidak akan berlangsung cepat. Goh memperkirakan industri membutuhkan waktu antara tiga hingga enam bulan untuk kembali ke kondisi normal.

Perusahaan energi harus mengaktifkan kembali produksi, memperbaiki rantai distribusi, dan menyesuaikan operasional kilang minyak. Proses itu memerlukan waktu karena gangguan yang terjadi selama beberapa bulan terakhir cukup besar.

Selain itu, pelaku industri juga masih menunggu kepastian keamanan jalur pelayaran internasional. Banyak perusahaan pengiriman belum berani beroperasi penuh sebelum situasi benar-benar stabil.

Pasar Saham Asia Bergerak Positif


Harapan terhadap meredanya konflik juga mendorong penguatan pasar saham Asia. Investor mulai kembali masuk ke aset berisiko setelah sebelumnya memilih instrumen aman seperti emas dan dolar AS.

Indeks Nikkei 225 Jepang menjadi salah satu yang paling diuntungkan dari sentimen positif tersebut. Kenaikan lebih dari 3 persen membawa indeks itu mencetak rekor tertinggi baru.

Pelaku pasar menilai berakhirnya konflik di Timur Tengah dapat mengurangi tekanan terhadap biaya energi global. Kondisi itu akan membantu sektor industri dan manufaktur, khususnya di negara-negara pengimpor minyak seperti Jepang.

Selain Jepang, sejumlah bursa saham Asia lainnya juga bergerak menguat. Investor berharap stabilitas geopolitik dapat mendorong pemulihan ekonomi global yang sempat tertahan akibat perang.

Ketidakpastian Masih Membayangi Pasar Energi


Meski pasar menunjukkan optimisme, ketidakpastian tetap membayangi perdagangan energi dunia. Hingga kini, belum ada pengumuman resmi mengenai kesepakatan final antara Amerika Serikat dan Iran.

Trump sendiri menegaskan bahwa blokade AS terhadap Iran masih tetap berlaku sampai kedua negara menandatangani kesepakatan resmi. Pernyataan itu menunjukkan bahwa proses negosiasi masih berlangsung dan belum mencapai tahap akhir.

Selain faktor politik, pasar juga mencermati dampak ekonomi jangka panjang akibat konflik tersebut. Gangguan distribusi minyak selama beberapa bulan terakhir telah memengaruhi harga energi, inflasi, dan aktivitas perdagangan global.

Karena itu, investor masih bergerak hati-hati sambil menunggu perkembangan terbaru dari Washington dan Teheran. Jika negosiasi berhasil, harga minyak kemungkinan terus menurun. Namun jika pembicaraan gagal, pasar energi dapat kembali mengalami lonjakan tajam.

 




Pantau terus berita terbaru, informasi akurat, dan perkembangan terkini hanya di suaro minang dot co. Jangan lewatkan update penting setiap harinya untuk tetap terinformasi dan waspada.

Editor : Putra Piasaulu
Sumber : Aljazeera

 

 

Editor: Administrator

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X