Rabu, 3 Juni 2026

Harga Emas dan Perak Dunia Menguat, Pelemahan Ekonomi AS Jadi Pendorong Utama

Photo Author
Administrator, SuaroMinang.co
- Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:31 WIB
Harga Emas dan Perak Dunia Menguat, Pelemahan Ekonomi AS Jadi Pendorong Utama | Foto : Bisnis.com
Harga Emas dan Perak Dunia Menguat, Pelemahan Ekonomi AS Jadi Pendorong Utama | Foto : Bisnis.com

JAKARTA – Harga emas dan perak dunia kembali mencatat kenaikan signifikan pada perdagangan terbaru. Sejumlah faktor global mendorong penguatan logam mulia, mulai dari melambatnya pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat hingga meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

Harga Emas dan Perak Dunia Kembali Menguat


Data pasar menunjukkan investor kembali memburu aset aman setelah muncul sinyal perlambatan ekonomi dari Negeri Paman Sam. Selain itu, pelemahan dolar AS juga memberikan ruang bagi harga emas dan perak untuk bergerak lebih tinggi.

Berdasarkan laporan Kitco pada Jumat (29/5/2026), harga emas spot naik 0,89 persen dan mencapai level US$4.495 per troy ounce. Sementara itu, harga perak spot menguat 1,35 persen ke posisi US$75,53 per ounce.

Tidak hanya pasar spot, kontrak berjangka juga mencatat performa positif. Harga emas berjangka melonjak 1,14 persen menjadi US$4.499,30 per troy ounce. Kenaikan tersebut menjadi penguatan harian terbesar sejak awal Mei 2026. Di sisi lain, kontrak berjangka perak naik 1,36 persen ke level US$75,64 per ounce.

Perlambatan Ekonomi AS Dorong Minat Investor ke Emas


Kenaikan harga emas dan perak terjadi setelah pemerintah Amerika Serikat merilis revisi data produk domestik bruto (PDB) kuartal pertama 2026. Data terbaru menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS hanya mencapai 1,6 persen secara tahunan, lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya yang berada di angka 2 persen.

Angka tersebut memunculkan kekhawatiran baru di kalangan pelaku pasar mengenai kesehatan ekonomi terbesar di dunia itu. Akibatnya, banyak investor mulai mengalihkan dana mereka ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk emas dan perak.

Di saat yang sama, inflasi yang diukur melalui indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) pada April 2026 tercatat meningkat 3,8 persen secara tahunan. Meski masih jauh di atas target inflasi Federal Reserve sebesar 2 persen, pasar melihat adanya potensi perlambatan ekonomi yang dapat membatasi ruang bank sentral AS untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lama.

Karena itu, ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar mulai muncul. Sentimen tersebut langsung mendukung pergerakan harga logam mulia.

Dolar AS Melemah, Emas Semakin Menarik


Selain data ekonomi yang melemah, indeks dolar AS juga mengalami tekanan. Nilai indeks dolar turun ke kisaran 99,16, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di sekitar 4,48 persen.

Kondisi ini memberikan keuntungan tambahan bagi emas. Pasalnya, harga emas memiliki hubungan yang cukup erat dengan pergerakan dolar AS dan suku bunga riil. Ketika dolar melemah, harga emas biasanya menjadi lebih menarik bagi investor global karena biaya pembeliannya relatif lebih murah.

Oleh sebab itu, banyak analis melihat pelemahan dolar sebagai salah satu faktor utama yang mendukung kenaikan harga logam mulia dalam beberapa hari terakhir.

Ketegangan Timur Tengah Masih Membayangi Pasar


Sementara itu, faktor geopolitik juga terus memainkan peran penting dalam membentuk sentimen pasar global. Ketegangan di kawasan Selat Hormuz masih menjadi perhatian utama investor internasional.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menjadi pintu utama distribusi minyak dunia. Belakangan, Amerika Serikat dan Iran kembali membahas kemungkinan gencatan senjata selama 60 hari. Kesepakatan tersebut mencakup pembukaan jalur pelayaran tanpa biaya tambahan serta dimulainya kembali pembicaraan terkait program nuklir Iran.

Namun demikian, kedua pihak belum mencapai kesepakatan final. Bahkan, bentrokan yang terjadi dalam 48 jam terakhir masih menjaga tingkat risiko geopolitik tetap tinggi.

Situasi tersebut ikut memengaruhi pasar energi. Harga minyak mentah WTI bertahan di level US$88,90 per barel, sedangkan Brent berada di kisaran US$92,72 per barel.

Investor kini terus memantau perkembangan di kawasan tersebut. Jika kesepakatan damai berhasil tercapai, harga energi berpotensi turun dan membantu menekan inflasi global. Sebaliknya, jika konflik kembali meningkat, harga minyak dapat melonjak lebih tinggi dan menciptakan ketidakpastian baru di pasar keuangan.

Prospek Jangka Panjang Emas Dinilai Tetap Cerah


Di tengah berbagai dinamika global, sejumlah analis masih optimistis terhadap prospek emas dalam jangka panjang.

Portfolio Manager Midas Discovery Fund, Tom Winmill, menilai bahwa fundamental emas tetap kuat. Menurutnya, pembelian emas oleh bank sentral berbagai negara terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Selain itu, tren de-dolarisasi global juga semakin terlihat. Banyak negara mulai mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi internasional maupun cadangan devisa mereka.

Winmill menegaskan bahwa kondisi tersebut berpotensi memperlemah posisi dolar sebagai mata uang cadangan utama dunia. Jika tren ini terus berlanjut, permintaan terhadap emas diperkirakan akan tetap tinggi.

Lebih lanjut, ia memperkirakan perlambatan ekonomi global dan tekanan inflasi akan mendorong penurunan suku bunga riil dalam jangka menengah. Secara historis, kondisi seperti ini sering memberikan keuntungan bagi aset keras seperti emas dan perak.

Dengan kombinasi pembelian bank sentral, pelemahan dolar AS, serta ketidakpastian ekonomi global, banyak pelaku pasar meyakini bahwa harga emas masih memiliki peluang untuk melanjutkan tren penguatannya dalam beberapa waktu mendatang.

 




Pantau terus berita terbaru, informasi akurat, dan perkembangan terkini hanya di SUAROMINANG.CO. Jangan lewatkan update penting setiap harinya untuk tetap terinspirasi dan terinformasi.

Editor : Putra Piasaulu
Sumber : Bisnis.com

Editor: Administrator

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X