Rabu, 3 Juni 2026

Persatuan Jangan Roboh Karena SARA: Batam Rumah Bersama di Tanah Melayu

Photo Author
Rizaldi Chan, SuaroMinang.co
- Minggu, 31 Mei 2026 | 11:48 WIB

Batam, Suarominang.co — Polemik yang berawal dari penertiban pedagang babi di Batam kini mulai bergeser menjadi perdebatan bernuansa suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) di media sosial. Berbagai unggahan dan komentar yang saling menyerang antar kelompok mulai bermunculan, memicu kekhawatiran masyarakat terhadap potensi terganggunya kerukunan yang selama ini menjadi kekuatan utama Kota Batam.

Batam dikenal sebagai kota yang dibangun oleh keberagaman. Masyarakat Melayu sebagai penduduk tempatan hidup berdampingan dengan berbagai suku dari seluruh Nusantara seperti Minangkabau, Jawa, Batak, Bugis, Tionghoa, Flores, dan lainnya. Keberagaman tersebut menjadi modal besar dalam membangun ekonomi dan kemajuan daerah.

Namun para tokoh masyarakat mengingatkan bahwa perbedaan pendapat terkait suatu persoalan tidak boleh berubah menjadi penghinaan terhadap suku atau kelompok tertentu. Setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk tinggal dan mencari nafkah di Batam, tetapi juga memiliki kewajiban menghormati adat, budaya, dan masyarakat tempatan sebagai bagian dari etika hidup bermasyarakat.

Sebagai wilayah yang tumbuh dari akar budaya Melayu, Batam memiliki sejarah, adat, dan nilai-nilai yang harus dihormati oleh siapa pun yang datang dan menetap. Menghormati masyarakat Melayu bukan berarti merendahkan suku lain, melainkan bentuk penghargaan terhadap tanah tempat seseorang mencari kehidupan.

Di sisi lain, masyarakat Melayu juga dikenal memiliki budaya terbuka dan menerima keberagaman. Nilai-nilai Melayu mengajarkan sopan santun, musyawarah, serta hidup berdampingan secara damai dengan berbagai kelompok masyarakat. Penelitian mengenai kondisi sosial Batam menunjukkan bahwa meski didominasi masyarakat pendatang, kehidupan masyarakat selama ini tetap kondusif karena menjunjung semangat kebersamaan dan Bhinneka Tunggal Ika.

Pemerhati sosial menilai bahwa komentar bernada merendahkan suatu suku hanya akan memecah persaudaraan dan berpotensi menimbulkan konflik yang merugikan seluruh masyarakat. Karena itu, warga diimbau lebih bijak menggunakan media sosial dan tidak mudah terpancing oleh provokasi yang dapat mengganggu stabilitas daerah.

Berbagai tokoh lintas agama dan lintas etnis di Batam sebelumnya juga telah menyerukan pentingnya menjaga persatuan, menolak isu SARA, serta memperkuat kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk.

Batam hari ini bukan hanya milik satu suku, tetapi rumah bersama bagi seluruh anak bangsa. Pendatang harus menghormati budaya Melayu sebagai identitas daerah, sementara masyarakat tempatan tetap menjaga tradisi keterbukaan yang selama ini menjadi ciri khas Kepulauan Riau.

Jangan karena satu persoalan, persaudaraan yang telah dibangun puluhan tahun menjadi rusak. Berbeda suku bukan alasan untuk bermusuhan. Batam akan tetap kuat jika seluruh masyarakat saling menghormati, menjaga adab, dan mengedepankan persatuan di atas segala perbedaan.

Editor: Rizaldi Chan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Terkini

X