Rabu, 3 Juni 2026

IHSG Melemah di Akhir Mei 2026, Investor Asing Tetap Borong Sejumlah Saham Pilihan

Photo Author
Administrator, SuaroMinang.co
- Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:38 WIB
Asing Banyak Borong Saham-Saham Ini Saat IHSG Terkoreksi Tipis, Jumat (29/5) © Dhemas Reviyanto:ANTARA FOTO
Asing Banyak Borong Saham-Saham Ini Saat IHSG Terkoreksi Tipis, Jumat (29/5) © Dhemas Reviyanto:ANTARA FOTO

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan terakhir bulan Mei 2026 di zona merah. Meski pelemahannya relatif tipis, tekanan jual dari investor asing masih membayangi pasar saham Indonesia sepanjang pekan terakhir.

IHSG Ditutup Melemah Tipis pada Perdagangan Akhir Pekan


Berdasarkan data perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG turun 0,05 persen dan berakhir di level 6.127,38 pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026). Penurunan tersebut melanjutkan tren pelemahan yang terjadi selama beberapa hari sebelumnya.

Tidak hanya itu, secara mingguan IHSG juga mencatat koreksi cukup dalam. Dalam sepekan terakhir, indeks acuan pasar modal Indonesia tersebut turun hingga 3,02 persen.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pelaku pasar masih bersikap hati-hati dalam menghadapi berbagai sentimen global maupun domestik yang memengaruhi pergerakan saham.

Arus Keluar Dana Asing Masih Menekan Pasar


Pada perdagangan akhir pekan, investor asing mencatat aksi jual bersih atau net sell yang cukup besar. Nilainya mencapai Rp8,52 triliun di seluruh pasar.

Besarnya arus dana yang keluar tersebut menjadi salah satu faktor yang menekan pergerakan IHSG. Investor asing terlihat melakukan penyesuaian portofolio di tengah ketidakpastian ekonomi global, arah suku bunga dunia, serta dinamika pasar keuangan internasional.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak sepenuhnya membuat investor asing meninggalkan pasar saham Indonesia. Sebaliknya, mereka tetap aktif mengoleksi sejumlah saham tertentu yang dinilai memiliki fundamental kuat dan prospek menarik dalam jangka panjang.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pelaku pasar global masih melihat peluang investasi di Indonesia, meskipun indeks secara keseluruhan mengalami tekanan.

Sektor Kesehatan dan Keuangan Menjadi Beban Utama IHSG


Pelemahan IHSG kali ini dipicu oleh koreksi yang terjadi pada sejumlah sektor utama. Sektor kesehatan menjadi penyumbang penurunan terbesar setelah kehilangan 1,49 persen.

Selanjutnya, sektor properti dan real estate turun 1,09 persen. Sektor keuangan juga mengalami tekanan dengan penurunan sebesar 1,04 persen.

Selain itu, sektor barang konsumen primer melemah 0,64 persen, sementara sektor teknologi terkoreksi 0,63 persen.

Penurunan di beberapa sektor tersebut cukup memengaruhi pergerakan indeks karena memiliki kapitalisasi pasar yang besar dan menjadi perhatian utama investor.

Di sisi lain, sebagian pelaku pasar memilih melakukan aksi ambil untung setelah beberapa saham mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir.

Infrastruktur dan Energi Jadi Penopang Pergerakan Indeks


Walaupun mayoritas investor mencermati pelemahan IHSG, beberapa sektor justru berhasil mencatatkan kinerja positif.

Sektor infrastruktur menjadi bintang pada perdagangan akhir pekan setelah melonjak 2,89 persen. Kenaikan tersebut menjadi yang tertinggi di antara seluruh sektor yang tercatat di BEI.

Selain itu, sektor barang baku juga menunjukkan performa impresif dengan penguatan 2,65 persen. Sektor energi menyusul dengan kenaikan 1,95 persen.

Tidak berhenti di situ, sektor barang konsumen non-primer menguat 1,17 persen, sektor transportasi dan logistik naik 0,77 persen, sedangkan sektor perindustrian bertambah 0,31 persen.

Penguatan sejumlah sektor tersebut membantu menahan tekanan yang lebih besar terhadap IHSG dan memberikan sinyal bahwa minat investor masih cukup kuat pada saham-saham tertentu.

Aktivitas Perdagangan Tetap Tinggi


Meskipun pasar bergerak melemah, aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia tetap berlangsung sangat aktif.

Volume perdagangan mencapai 47,21 miliar saham pada akhir sesi perdagangan. Sementara itu, nilai transaksi tercatat menyentuh Rp50,14 triliun.

Tingginya nilai transaksi menunjukkan bahwa investor masih aktif melakukan akumulasi maupun distribusi saham. Kondisi tersebut juga mencerminkan likuiditas pasar yang tetap terjaga meskipun indeks sedang mengalami koreksi.

Banyak pelaku pasar memanfaatkan penurunan harga saham untuk mencari peluang investasi baru. Strategi buy on weakness kembali menjadi pilihan bagi investor yang percaya terhadap prospek jangka panjang pasar saham Indonesia.

Saham Pilihan Investor Asing Jadi Sorotan


Menariknya, di tengah derasnya aksi jual bersih yang dilakukan investor asing, sejumlah saham justru menjadi target pembelian. Investor global terlihat memanfaatkan koreksi pasar untuk mengakumulasi saham-saham dengan valuasi menarik.

Strategi tersebut sering muncul ketika pasar sedang mengalami tekanan. Investor institusi biasanya memanfaatkan momentum penurunan harga untuk mendapatkan saham berkualitas pada harga yang lebih kompetitif.

Karena itu, pergerakan saham yang banyak dibeli asing sering menjadi perhatian investor ritel. Banyak pelaku pasar menjadikan aktivitas asing sebagai indikator untuk melihat potensi saham yang memiliki prospek cerah di masa mendatang.

Selain faktor fundamental perusahaan, investor asing juga mempertimbangkan kinerja keuangan, pertumbuhan laba, kondisi industri, serta peluang ekspansi bisnis dalam menentukan pilihan investasinya.

Ke depan, pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan ekonomi global, arah kebijakan bank sentral dunia, serta kondisi domestik yang dapat memengaruhi arus modal asing ke pasar saham Indonesia.

Jika sentimen global membaik dan aliran dana asing kembali masuk, IHSG berpeluang bangkit dan melanjutkan tren penguatan pada perdagangan berikutnya.

Berikut 10 saham net buy terbesar asing pada Jumat:

1. PT Astra International Tbk (ASII) Rp 137,78 miliar

2. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) Rp 95,64 miliar

3. PT United Tractors Tbk (UNTR) Rp 85,23 miliar

4. PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) Rp 79,85 miliar

5. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) Rp 77,85 miliar

6. PT Timah Tbk (TINS) Rp 50,43 miliar

7. PT Petrosea Tbk (PTRO) Rp 30,87 miliar

8. PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) Rp 25,52 miliar

9. PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) Rp 22,85 miliar

10. PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) Rp 20,35 miliar

 




Pantau terus berita terbaru, informasi akurat, dan perkembangan terkini hanya di SUAROMINANG.CO. Jangan lewatkan update penting setiap harinya untuk tetap terinspirasi dan terinformasi.

Editor : Putra Piasaulu
Sumber : Konta.co.id

Editor: Administrator

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X