Hasil riset Dr. Ir. Eko Alvares tahun 1993, mengungkapkan, kota Padang dibangun tahun 1930. Kota ini dirancang Ir. Herman Thomas Kharsten, arsitek dan penasehat khsusus pemerintahan Belanda bidang perencanaan kota, sebagai ibukota provinsi Sumatera. Thomas mendirikan Kantor Pemerintahan, kini jadi Balaikota Padang, sebagai landmark dan titik pusat bagan bangun kota dengan pola segi empat ini. (Menurut Rusli Amran, dalam Padang Tempo Dulu, sekitar tahun 1937 Padang, masih sebuah kecamatan dari Kabupaten Pesisir Selatan).
Gedung berlantai dua berbentuk leter “L” dengan menara berbentuk tugu berhiaskan dua jam besar, sebagai simbol kedisiplinan, menghadap dua kilometer ke lautan Hindia atau lima kilometer di timur laut Pelabuhan Muara. Di depannya terbentang jalan lurus sepanjang empat kilometer dari Jalan Hang Tuah di pinggir laut , jalan Raaffweg, (kini Jalan M. Yamim) terus ke timur ke Jalan Proklamasi di depan Rumah Sakit TNI Dr. Reksodiwirjo, yang dibangun tahun 1787.
Sekitar 150 meter di timur balaikota dibangun benteng pertahanan, kini, sudah dirombak dan jadi Markas Poltabes Padang. Dari simpang empat di depan kantor polisi itu, ke kanan, menunuju JalanBagindo Aziz Chan( dulu Jalan Societeitsweg), terus ke Kampung Alanglaweh melintasi Masjid Raya Ganting (Lihat Masjid Raya Ganting) menuju Pelabuhan Telukbayur dan Bengkulu. Ke kiri melintasi Kampung Balantuang, dibangun jalan dan kemudian menjadi Jalan Jenderal Sudirman tepat di depan Gedung Resident ( kini jadi gubernuran) dan terus ke Jalan Rasuna Said di Rimbo Kaluang.
Dari belakang balaikota dibangun pula jalan lurus sejauh 15 kilometer ke timur dari Kampung Jawa (kini Pasar Raya Padang) melintasi Jalan Jendral Sudirman, Jalan H. Agus Salim dan terus ke Indarung, lokasi Pabrik Semen Padang atau menuju Kabupaten Solok dan Jalan Lintas Tengah. Dinamai Kampung Jawa karena Belanda membawa sejumlah tentara Dipnegoro yang dipimpin Panglima Sentot Alibasa, yang membelot dari Dipongero, untuk mengalahkan Kerajaan Pagaruyung.
Di depan balaikota disediakan lapangan terbuka hijau seluas 4 hektare, kini lapangan Imam Bonjol, sampai ke Masjid Nurul Iman. Di sampingnya dibangun jalan ke kawasan pecinaan Kampung Pondok, Tanah Kongsi, Pasar Mudik dan Pasar Gadang. Dari Pelabuhan Muara dibangun jalan lurus sekitar 500 meter dari bibir pantai, melewati Jalan Diponegero, Veteran, sampai ke jalan Prof. Hamka, di depan Bandara Tabing, menuju Bukittinggi dan provinsi Riau.
Belanda tak membangun jalan di sapanjang pantai seperti yang kini dilakukan Pemerintah kota (Pemko) Padang dan kemudian dihentikan Gubernur Gamawan Fauzi, SH. Yang dibangun Belanda cuma sejumlah jalan p o r o s menuju pantai yang kemudian oleh penduduk disebut Jalan Purus.
Menurut Eko, jalan poros berfungsi sebagai pantelasi udara kota yang bersuhu rata-rata 23-32 derajat celsius dan jadi jalur evakuasi jika terjadi tsunami seperti pada tahun 1833. Itu sebabnya, hampir semua jalan poros tadi menyambung ke jalan utama kota menuju daerah perbukitan. Di samping itu jalan poros juga berfungsi sebagai jalur pengamanan kota Padang dari serangan musuh dari laut.
Eko, alumni magister Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung, menyebutkan untuk kesegaran kota pula Belanda membangun ruang-ruang terbuka hijau, sekalian jadi lapangan olaharga hampir di setiap ruas jalan kota. Misalnya, ruang terbuka Taman Melati (dulu Lapangan Michiels dengan tugu Michiels). Di depannya dibangun Hotel Oranje, kini hotel Ina Muara.
Belanda, kata dosen Arsitektur Perkotaan, Fakulktas Teknik Universitas Bung Hatta ini, menyadari bahwa wilayah kota sekitar 33 kilometer persegi (wilayah kota Padang lama dengan empat kecamatan) merupakan daerah rawa. Daratannya cuma 0 - 3 meter dari permukan laut. Daerah ini nyaris jadi kawasan tumpahan air hujan dari perbukitan di sebelah timur kota.
Maka, selain memperbanyak ruang terbuka hijau Belanda membangun sejumlah drainase. Antara lain Bandar Jati, Bandar Purus, Bandar Damar dan sebagainya. Bandar Jati jadi pemutus aliran air dari timur ke arah pusat kota. Maka, apabila Bandar Jati melimpah, seperti yang terjadi 21 Oktober 2002, Balaikota Padang terendam banjir.
Untuk menghindari banjir pula dan mengamankan Pelabuhan Muara dari amukan Batang Arau, Belanda membangun banjir kanal tahun 1911 hingga 1918. Saluran selebar 30 meter dan panjang 7 kilometer dari Lubukbegalung ke Purus Lima yang disebut penduduk Banda Bakali, membagi dua air Batang Arau.
(Sumber : Refleksi Sejarah Minangkabau dari Pagaruyuang sampai semenanjung FR 2008)
Foto pembuatan banjir kanal/banda bakali
Bersama Bambang Istijono, Indang Dewata, Werry Darta Taifur
Postingan 6 November 2018
·