suarominang.co – Serbuan produk murah asal China semakin membuat pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia terjepit. Barang impor dengan harga jauh lebih rendah terus membanjiri pasar lokal, menyebabkan banyak UMKM kesulitan bersaing dan bahkan terpaksa gulung tikar.
Salah satu sektor yang paling terdampak adalah industri tekstil dan kerajinan. Para pengusaha kecil mengeluhkan bahwa produk-produk buatan China dijual dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan barang produksi lokal. “Kami tidak bisa menjual dengan harga segitu, modal saja sudah lebih tinggi,” kata Siti, seorang pengrajin batik asal Pekalongan.
Masuknya barang murah ini semakin diperparah oleh kemudahan akses e-commerce yang membuat konsumen dengan mudah membeli langsung dari China tanpa perantara. Platform marketplace internasional seperti Shopee, TikTok Shop, dan Lazada semakin memfasilitasi transaksi lintas negara, membuat produk UMKM kian terpinggirkan.
Menurut Asosiasi UMKM Indonesia, faktor utama yang membuat produk China lebih kompetitif adalah biaya produksi yang lebih rendah, efisiensi manufaktur yang tinggi, serta dukungan penuh dari pemerintahnya. Sementara itu, UMKM di Indonesia masih terbebani oleh biaya produksi yang tinggi, bahan baku yang mahal, serta minimnya insentif dari pemerintah.
Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, menilai bahwa jika pemerintah tidak segera mengambil langkah strategis, gelombang impor ini bisa semakin menghancurkan sektor UMKM. “Kita butuh kebijakan proteksi yang lebih kuat dan insentif yang konkret bagi pelaku usaha kecil agar mereka bisa bertahan,” ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah mengklaim telah berupaya membatasi impor dengan regulasi tertentu, seperti kebijakan larangan impor barang di bawah harga tertentu dan pengawasan ketat terhadap marketplace. Namun, kebijakan tersebut masih dianggap belum cukup efektif karena masih banyak celah yang dimanfaatkan importir.
Para pelaku UMKM berharap adanya langkah nyata dari pemerintah untuk menekan dominasi produk murah dari China. Jika tidak, masa depan sektor UMKM yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia bisa semakin terancam.