suarominang.co - Batam, 24 April 2025 – Aroma kemarahan masih menggantung di udara Teluk Bakau, Nongsa. Di atas tanah yang diperebutkan, bukan hanya pohon-pohon yang tumbang—tapi juga nyawa yang nyaris melayang. Seorang warga jadi korban pembacokan dalam kerusuhan yang diduga dipicu sengketa lahan. Kini, keluarga korban tak hanya merawat luka, tapi juga memupuk tuntutan keadilan yang belum kunjung digubris.
Di depan aparat, keluarga korban menumpahkan keresahan mereka. "Kami tidak ingin pelaku hanya ditahan, kami ingin semua yang terlibat diadili. Ini bukan kecelakaan biasa, ini kekerasan terencana," ujar salah satu anggota keluarga, dengan nada bergetar.
Warga sekitar turut bersuara. Mereka mengaku telah lama hidup di bawah bayang-bayang konflik lahan yang tak kunjung diselesaikan secara tuntas oleh otoritas setempat. "Hari ini satu orang terluka, besok siapa?" kata seorang tokoh masyarakat.
Pihak kepolisian menyatakan sedang menyelidiki lebih lanjut. Namun, publik mendesak agar penegakan hukum dilakukan secara menyeluruh, bukan setengah hati. “Jangan tunggu korban berikutnya,” ujar aktivis lokal yang mendampingi warga.
Kisah ini kembali menyadarkan kita bahwa di balik megaproyek pembangunan dan janji investasi di Batam, masih ada persoalan mendasar yang belum tersentuh: hak atas tanah, dan hak untuk hidup dengan aman di atasnya.