SuaroMinang.co – Batam, Rabu ( 7/5/2025) Musim hujan kembali hadir, dan warga Batam kembali was-was. Dari Bengkong, Batu Aji, hingga Batam Center, genangan air dan banjir datang seolah tanpa solusi. Padahal, permasalahan ini bukan hal baru.
Berdasarkan pantauan tim Suaro Minang, penyebab utama banjir di Batam adalah alih fungsi lahan, buruknya sistem drainase, dan semakin sedikitnya ruang terbuka hijau. Pembangunan yang masif kerap tak dibarengi dengan tata air yang matang. Saluran mampet, hutan digusur, air pun tak tahu ke mana harus pergi.
Namun benarkah banjir tak bisa dicegah? Mari lihat ke luar negeri. Di Rotterdam, Belanda, masyarakat hidup berdampingan dengan air melalui sistem water plaza dan kanal buatan. Di Tokyo, Jepang, pemerintah membangun terowongan raksasa bawah tanah untuk mengalirkan air hujan ke sungai besar. Bahkan di negeri jiran Singapura, drainase dibuat cerdas dengan taman serapan, kolam retensi, hingga aturan ketat untuk pengembang.
Tak hanya di negara maju, Seoul di Korea Selatan bahkan membongkar jalan beton dan menghidupkan kembali Sungai Cheonggyecheon untuk mengalirkan air hujan secara alami. Hasilnya, bukan cuma bebas banjir, tapi juga jadi destinasi wisata kota.
Kini saatnya Batam belajar. Warga menanti langkah nyata, bukan sekadar proyek seremonial. Penataan drainase, pengawasan pembangunan, dan keterlibatan warga menjaga lingkungan jadi kunci.