nasional

Hamas Serahkan Jenazah ke Israel, PBB Desak Akses Bantuan Tanpa Hambatan ke Gaza

Kamis, 6 November 2025 | 05:12 WIB
Hamas Serahkan Jenazah ke Israel, PBB Desak Akses Bantuan Tanpa Hambatan ke Gaza

GAZA — Situasi di Jalur Gaza kian genting. Di tengah minimnya bantuan kemanusiaan dan musim dingin yang mendekat, Hamas mengembalikan jenazah seorang tawanan Israel kepada otoritas Tel Aviv melalui Komite Palang Merah Internasional (ICRC) pada Rabu (5/11).

Langkah ini terjadi di tengah tekanan global yang semakin meningkat terhadap Israel dan kelompok Palestina tersebut untuk mempercepat akses bantuan ke wilayah konflik.

Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengonfirmasi pemulangan jenazah tersebut, menyisakan enam jenazah tawanan Israel lainnya yang masih berada di Gaza.

Isu pemulangan jenazah ini menjadi bagian krusial dalam kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi oleh Amerika Serikat, dengan Israel menuduh Hamas tidak menepati perjanjian karena belum menyerahkan seluruh jenazah.

Namun, Hamas membantah tudingan itu. Mereka menyebutkan proses evakuasi terkendala akibat kerusakan infrastruktur besar-besaran di Gaza serta pembatasan Israel terhadap alat berat dan kendaraan bantuan yang diperlukan untuk pencarian jenazah di bawah reruntuhan.

Menurut laporan Al Jazeera, jenazah yang dikembalikan ditemukan setelah empat hari proses pencarian di lingkungan Shujayea, kawasan timur Kota Gaza yang sebelumnya menjadi lokasi operasi militer intensif Israel.

“Wilayah Shujayea sudah berbulan-bulan berada di bawah kendali tentara Israel. Proses pencarian dilakukan dengan dukungan tim ahli dari Mesir,” kata juru bicara Hamas, Mohammed Odeh.

Bantuan Kemanusiaan Masih Minim Meski Ada Gencatan Senjata

Krisis kemanusiaan di Gaza terus memburuk meskipun gencatan senjata berlaku sejak Oktober lalu. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa jumlah bantuan makanan dan medis yang masuk ke Gaza masih jauh dari cukup.

“Kami membutuhkan akses penuh dan cepat. Musim dingin sudah dekat, sementara ribuan warga masih hidup tanpa tempat berlindung dan makanan layak,” ujar Abeer Etefa, juru bicara senior Program Pangan Dunia (WFP) PBB.

Data terbaru menunjukkan, Israel hanya mengizinkan rata-rata 145 truk bantuan per hari masuk ke Gaza sejak gencatan senjata dimulai — hanya 24 persen dari total kebutuhan 600 truk per hari sebagaimana disepakati dalam perjanjian.

Sementara itu, Dewan Pengungsi Norwegia (NRC) mengungkapkan bahwa otoritas Israel telah menolak lebih dari 20 permintaan dari lembaga kemanusiaan internasional yang ingin membawa tenda, selimut, dan bahan bangunan ke Gaza.

“Kami memiliki waktu yang sangat sedikit untuk melindungi keluarga dari cuaca dingin dan hujan. Komunitas internasional harus bertindak sekarang,” tegas Angelita Caredda, Direktur Regional NRC untuk Timur Tengah dan Afrika Utara.

Warga Gaza Bergantung pada Dapur Umum

Ribuan warga Palestina yang kehilangan rumah akibat serangan udara Israel kini bergantung sepenuhnya pada dapur umum untuk bertahan hidup.

Abdel Majid al-Zaity, seorang warga kamp pengungsi Shati di Gaza utara, mengaku hanya bisa mengandalkan bantuan makanan dari dapur umum.

“Tanpa dapur umum, kami tidak bisa makan. Tidak ada pekerjaan, tidak ada uang, dan tidak ada tempat berlindung,” ujarnya sedih.

Kisah serupa juga datang dari Hind Hijazy, seorang ibu enam anak yang kini tinggal di Khan Younis, Gaza selatan.

“Mereka bilang ada gencatan senjata, tapi nyatanya tidak ada yang berubah. Kami masih terkurung dan lapar,” ucapnya.

Kondisi ini mencerminkan krisis kemanusiaan Gaza yang belum menunjukkan tanda-tanda membaik. Meski banyak negara menyerukan akses kemanusiaan tanpa hambatan, hingga kini distribusi bantuan masih tersendat oleh blokade dan pemeriksaan ketat di perbatasan.

Ketegangan Baru dan Seruan Global

Sementara situasi kemanusiaan memburuk, ketegangan baru kembali muncul setelah tentara Israel menembak dua warga Palestina di Gaza tengah. Militer Israel mengklaim keduanya melintasi “garis kuning” di dekat pos Israel selama masa gencatan senjata.

Insiden serupa juga menewaskan seorang pria Palestina yang sedang mengumpulkan kayu bakar, menurut laporan Reuters yang mengutip sumber dari otoritas kesehatan Gaza.

Kejadian ini menambah panjang daftar pelanggaran yang mengancam stabilitas gencatan senjata di wilayah tersebut. Pengamat internasional menilai bahwa jika tidak ada peningkatan bantuan dan pemulihan cepat, situasi Gaza berpotensi kembali memanas dalam waktu dekat.

Tekanan Dunia Internasional

Sejumlah organisasi kemanusiaan dunia, termasuk PBB, WFP, dan Palang Merah Internasional, mendesak Israel untuk membuka lebih banyak jalur penyeberangan bantuan ke Gaza. Mereka menekankan pentingnya “akses kemanusiaan tanpa hambatan” agar warga yang terdampak bisa segera mendapatkan makanan, obat-obatan, dan perlindungan.

“Lebih dari tiga minggu setelah gencatan senjata, Gaza seharusnya sudah menerima peningkatan pasokan bantuan. Namun hingga kini, yang datang baru sebagian kecil,” ujar Caredda.

Seruan ini menegaskan bahwa krisis Gaza bukan hanya konflik militer, tetapi juga tragedi kemanusiaan global yang memerlukan tanggapan cepat dan terkoordinasi.

Tags

Terkini