nasional

IHSG Cetak Rekor Sejarah, Namun Sentimen Negatif Global Mengintai Perdagangan Akhir Pekan

Kamis, 6 November 2025 | 23:46 WIB
IHSG Cetak Rekor Sejarah, Namun Sentimen Negatif Global Mengintai Perdagangan Akhir Pekan

EKBIS - Pasar keuangan Indonesia kembali menjadi pusat perhatian setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang sejarah pada perdagangan Kamis (6/11/2025).

Sementara itu, rupiah berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat, menandai pembalikan tren setelah melemah selama tiga hari sebelumnya.

Namun di sisi lain, tekanan jual pada Surat Berharga Negara (SBN) menunjukkan bahwa investor masih berhati-hati menjelang rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat dan China.

Meskipun euforia pasar domestik cukup terasa, pasar keuangan global tengah berada dalam fase turbulensi. Wall Street terpantau anjlok karena sentimen negatif yang dipicu kekhawatiran terhadap valuasi perusahaan-perusahaan kecerdasan buatan (AI) yang dinilai terlalu mahal, serta meningkatnya risiko pelemahan ekonomi AS.

IHSG Torehkan Rekor Sepanjang Masa

Pada perdagangan Kamis, IHSG ditutup naik 18,53 poin atau 0,22% ke level 8.337,06, menjadi rekor penutupan tertinggi dalam sejarah bursa Indonesia. Selama sesi perdagangan, indeks bergerak pada kisaran 8.289–8.362 dengan nilai transaksi mencapai Rp18,48 triliun.

Dari total 2,39 juta transaksi, sebanyak 394 saham menguat, 259 melemah, dan 158 stagnan. Meski IHSG mencetak rekor, investor asing justru mencatatkan net sell sebesar Rp113,4 miliar, mengindikasikan bahwa euforia pasar belum sepenuhnya didukung dana asing.

Sektor energi menjadi motor penggerak utama dengan kenaikan 3,05%, diikuti utilitas dan industri yang masing-masing tumbuh 1,68% dan 1,13%. Sementara sektor non-siklikal, kesehatan, dan keuangan tercatat melemah.

Emiten yang memberikan kontribusi terbesar terhadap kenaikan IHSG antara lain:

  • DSSA – Dian Swastatika Sentosa (+30,07 poin)

  • BREN – Barito Renewables (+6,67 poin)

  • ASII – Astra International (+3,34 poin)


Sementara tekanan terbesar datang dari:

  • BBCA – Bank Central Asia (-10,76 poin)

  • TLKM – Telkom Indonesia (-6,87 poin)

  • BRMS – Bumi Resources Minerals (-6,76 poin)


Kenaikan IHSG dipengaruhi oleh kombinasi optimisme pelaku pasar, earnings season yang kuat, serta meningkatnya minat terhadap saham-saham energi dan industri seiring pemulihan ekonomi global.

Rupiah Menguat, Dolar AS Melemah

Rupiah mengakhiri transaksi dengan penguatan 0,06% ke Rp16.690/US$, setelah sempat menembus Rp16.700 per dolar AS di sesi tengah hari. Penguatan ini terjadi bersamaan dengan melemahnya indeks dolar (DXY) setelah reli panjang sejak akhir Oktober lalu.

  • Pelemahan dolar disebabkan oleh:

  • Pelaku pasar mulai melepas aset berdominasi dolar

  • Keraguan terhadap agresivitas pemangkasan suku bunga The Federal Reserve

  • Data tenaga kerja AS yang tidak terlalu memuaskan


Dari sisi fundamental, rilis data ADP payrolls menunjukkan sektor swasta AS hanya menambah 42.000 pekerjaan pada Oktober, jauh di bawah ekspektasi. Data ini menambah tekanan terhadap outlook ekonomi Negeri Paman Sam.

Yield SBN Naik, Sinyal Tekanan Baru

Sementara IHSG dan rupiah bergerak positif, kondisi pasar obligasi justru berbanding terbalik. Yield SBN tenor 10 tahun naik 0,21% ke level 6,171%, menandakan adanya aksi jual investor.

Kenaikan yield ini menunjukkan bahwa investor masih memilih bersikap defensif menjelang rilis data cadangan devisa serta uang primer (base money) Indonesia untuk Oktober yang akan diumumkan Bank Indonesia hari ini.

Wall Street Ambruk, Saham AI Jadi Biang Kerok

Bursa saham AS kompak melemah tajam. Kekhawatiran pasar terutama berpusat pada valuasi tinggi perusahaan teknologi dan AI seperti Nvidia, Palantir, dan AMD.

  • Rincian penutupan indeks:

  • Dow Jones turun 0,84% ke 46.912,30

  • S&P 500 melemah 1,12% ke 6.720,32

  • Nasdaq anjlok 1,9% ke 23.053,99


Bahkan Nasdaq 100 mencatat penurunan lebih dari 2% sejak akhir pekan lalu dan menuju minggu terburuk sejak April.

Saham Qualcomm, AMD, Oracle, dan Meta menjadi penyumbang terbesar pelemahan. Pasar menilai valuasi perusahaan AI kini sudah “priced in for perfection,” sehingga rentan terkoreksi ketika ada sentimen negatif.

Risiko Bertambah: PHK Massal dan Shutdown Pemerintah AS

Sentimen negatif di pasar global semakin diperburuk oleh laporan PHK mencapai 153.000 pada Oktober, hampir tiga kali lipat bulan sebelumnya. Ini merupakan angka tertinggi untuk Oktober dalam 22 tahun terakhir.

Selain itu, shutdown pemerintah AS yang telah berlangsung lebih dari sebulan membuat banyak data ekonomi penting tertunda, memunculkan ketidakpastian baru bagi pelaku pasar.

  • Waspada Sentimen AS–China: Pesta IHSG Bisa Berakhir

  • Pelaku pasar Indonesia kini menantikan dua rilis data penting:

  • Data cadangan devisa Indonesia (Oktober)

  • Data ekonomi AS dan China yang dirilis akhir pekan


Keduanya berpotensi menentukan arah pergerakan IHSG dan rupiah pada penutupan pekan ini. Jika data AS menunjukkan pelemahan lebih dalam, volatilitas pasar kemungkinan meningkat.

Tags

Terkini