nasional

Selat Hormuz Memanas: Rentetan Serangan Kapal Picu Ancaman Krisis Energi Global 2026

Sabtu, 25 April 2026 | 12:00 WIB
Selat Hormuz Memanas: Rentetan Serangan Kapal Picu Ancaman Krisis Energi Global 2026

INTERNASIONAL - Eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran langsung mengguncang jalur perdagangan global. Selat Hormuz kini berubah menjadi kawasan berisiko tinggi. Jalur sempit ini selama ini menjadi nadi distribusi minyak dan gas dunia.

Ketegangan Global Picu Krisis di Selat Hormuz


Sejak akhir Februari 2026, situasi terus memanas. Iran melalui Korps Garda Revolusi mengeluarkan ancaman terbuka. Mereka menargetkan kapal yang melintas di wilayah tersebut. Akibatnya, aktivitas pelayaran terganggu dan pasar energi global mulai goyah.

1 Maret 2026: Serangan Perdana Picu Kepanikan


Gelombang serangan dimulai pada 1 Maret. Kapal tanker MKD Vyom terkena proyektil di lepas pantai Oman. Insiden itu menewaskan satu kru.

Pada hari yang sama, kapal Hercules Star ikut diserang di wilayah Uni Emirat Arab. Api sempat berkobar, namun kru berhasil memadamkannya.

Selain itu, kapal Skylight juga terkena serangan di dekat Kumzar. Tim keamanan maritim Oman langsung mengevakuasi seluruh awak.

2–3 Maret 2026: Target Bergeser ke Pelabuhan dan Jalur Padat


Sehari kemudian, kapal tanker Stena Imperative diserang di pelabuhan Bahrain. Dua proyektil memicu kebakaran besar. Seluruh kru segera meninggalkan kapal demi keselamatan.

Kemudian pada 3 Maret, dua kapal lain yakni Libra Trader dan Gold Oak mengalami kerusakan ringan di dekat Fujairah. Meski tidak parah, insiden ini menambah tekanan pada jalur pelayaran.

4–6 Maret 2026: Serangan Semakin Intens


Serangan semakin brutal pada 4 Maret. Kapal kontainer Safeen Prestige mengalami kerusakan berat di utara Oman. Kebakaran di ruang mesin memaksa kru menyelamatkan diri.

Selanjutnya, 5 Maret, kapal tanker Sonangol Namibe meledak di Irak. Dugaan awal mengarah pada penggunaan drone laut bermuatan bahan peledak.

Lalu pada 6 Maret, kapal tunda yang membantu Safeen Prestige ikut terkena serangan di Selat Hormuz.

7 Maret 2026: Ancaman Drone Mulai Muncul


Serangan tidak hanya datang dari laut. Pada 7 Maret, laporan menunjukkan kemungkinan serangan drone di wilayah Jubail, Arab Saudi. Mayoritas kru berhasil dievakuasi sebelum situasi memburuk.

11–12 Maret 2026: Serangan Massal Lumpuhkan Aktivitas Pelabuhan


Puncak ketegangan terjadi pada 11 Maret. Lima kapal diserang hampir bersamaan.

Kapal Mayuree Naree terbakar hebat setelah terkena proyektil. Di saat bersamaan, kapal One Majesty dan Star Gwyneth juga mengalami kerusakan.

Lebih jauh lagi, dua kapal tanker di Irak ikut diserang. Pemerintah Irak langsung menghentikan seluruh aktivitas pelabuhan minyak.

Sehari setelahnya, kapal Source Blessing terkena serpihan proyektil. Beruntung, kru tetap selamat dan api berhasil dipadamkan.

17–22 Maret 2026: Serangan Terus Berlanjut


Pada 17 Maret, kapal tanker Gas Al Ahmadiah terkena serangan di Fujairah.

Kemudian 19 Maret, proyektil menghantam kapal di dekat Ras Laffan, Qatar. Serangan ini bahkan berdampak pada kompleks gas terbesar dunia.

Lalu pada 22 Maret, kapal lain kembali diserang di dekat Sharjah. Meski terkena hantaman, seluruh kru berhasil selamat.

30 Maret 2026: Kapal Kuwait Terbakar di Dubai


Memasuki akhir bulan, serangan belum mereda. Kapal tanker Al Salmi terbakar hebat di lepas pantai Dubai. Kerusakan terjadi pada lambung kapal, namun tidak memicu kebocoran minyak.

Di sisi lain, Iran mengklaim telah menargetkan kapal yang memiliki hubungan dengan Israel. Namun data pelayaran menunjukkan kapal yang terdampak berbeda dari klaim tersebut.

Dampak Besar ke Ekonomi dan Energi Dunia


Rangkaian serangan ini langsung memukul sektor energi global. Selat Hormuz menyuplai hampir sepertiga kebutuhan minyak dunia. Gangguan di wilayah ini memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan biaya logistik internasional.

Selain itu, perusahaan pelayaran mulai mengalihkan rute. Langkah ini membuat waktu pengiriman lebih lama dan biaya semakin tinggi.

Krisis Belum Menunjukkan Tanda Reda


Situasi di Selat Hormuz masih jauh dari stabil. Serangan terus terjadi dan ancaman semakin kompleks, mulai dari proyektil hingga drone.

Jika konflik terus berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan kawasan Timur Tengah, tetapi juga seluruh dunia. Stabilitas energi global kini berada di ujung tanduk.

 

 




Pantau terus berita-berita terbaru hanya di detikepri.com

Editor : Putra Piasaulu
Sumber : CNBC

Tags

Terkini