Batam, suarominang.co — Kota Batam selama ini dikenal sebagai magnet investasi asing. Deretan perusahaan global seperti Philips, Flextronics, Panasonic, MacDermott, hingga Caterpillar telah lama menanamkan modalnya di kota ini. Infrastruktur industri terus berkembang, kawasan ekonomi tumbuh, dan Batam kerap disebut sebagai calon kota megapolitan masa depan.
Namun di balik citra modern tersebut, ada persoalan mendasar yang tak kunjung terselesaikan: pengelolaan sampah.
Hingga hari ini, wajah Batam justru tercoreng oleh sistem pengelolaan sampah yang jauh dari kata layak. Truk-truk pengangkut sampah yang sudah tidak memenuhi standar masih beroperasi di jalanan. Banyak di antaranya menggunakan bak terbuka, sehingga bau menyengat menyebar sepanjang perjalanan. Lebih parah lagi, sampah kerap berserakan di jalan akibat pengangkutan yang tidak tertutup dengan baik.
Pemandangan tumpukan sampah di pinggir jalan pun bukan hal asing bagi warga. Kondisi ini tidak hanya merusak estetika kota, tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan dan lingkungan yang lebih serius.
Ironisnya, kritik demi kritik dari masyarakat seolah hanya menjadi angin lalu. Keluhan warga terus bermunculan, baik di media sosial maupun laporan langsung, namun belum terlihat solusi konkret yang mampu menjawab persoalan ini secara menyeluruh.
Sebagai kota yang menjadi pusat investasi asing, Batam seharusnya mampu menghadirkan sistem pengelolaan sampah yang modern dan terintegrasi—mulai dari armada yang layak, sistem pengangkutan tertutup, hingga pengolahan berbasis teknologi ramah lingkungan. Bukan justru mempertahankan cara-cara lama yang sudah tidak relevan dengan perkembangan kota.
Pertanyaan yang kini muncul di tengah masyarakat semakin tajam: sampai kapan masalah ini akan dibiarkan? Haruskah menunggu pergantian wali kota demi wali kota tanpa perubahan nyata?
Kekecewaan publik semakin memuncak. Warga merasa lelah melihat kondisi yang tak kunjung membaik, sementara Batam terus dipromosikan sebagai kota maju di mata dunia.
Jika persoalan mendasar seperti sampah saja belum mampu ditangani dengan serius, maka wajar jika publik mulai mempertanyakan komitmen pemerintah dalam membangun Batam sebagai kota modern yang sesungguhnya.
Batam tidak kekurangan investor. Batam tidak kekurangan potensi. Yang dipertanyakan hari ini adalah: apakah Batam kekurangan keseriusan dalam mengurus hal paling dasar bagi warganya?