JAKARTA – Rupiah Tertekan, Kurs Diprediksi Dekati Rp 18.000 per Dolar AS Akibat Gejolak Global dan Lonjakan Harga Minyak, Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan berat pada perdagangan akhir Mei 2026.
Sejumlah faktor global mulai dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS), lonjakan harga minyak mentah dunia, hingga konflik geopolitik internasional mendorong rupiah bergerak melemah terhadap dolar AS.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar karena kurs rupiah berpotensi menyentuh level psikologis Rp 18.000 per dolar AS dalam waktu dekat. Situasi ini sekaligus menjadi perhatian serius bagi pemerintah, pelaku usaha, hingga masyarakat karena pelemahan rupiah dapat berdampak luas terhadap harga barang impor, inflasi, dan beban anggaran negara.
Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (22/5/2026), indeks dolar AS atau DXY tercatat berada di level 99,23. Di sisi lain, rupiah di pasar spot melemah hingga mencapai Rp 17.717 per dolar AS.
Penguatan Dolar AS Jadi Tekanan Utama Rupiah
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai tren penguatan dolar AS masih berpotensi berlanjut dalam beberapa pekan mendatang. Menurutnya, pasar global saat ini masih menjadikan dolar AS sebagai aset aman atau safe haven di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia.
Ia memperkirakan indeks dolar AS bergerak pada area support 97,60 dan resistance 101,00. Jika DXY terus menguat, maka tekanan terhadap rupiah juga semakin besar.
“Beberapa minggu terakhir tren dolar AS masih menguat dan kondisi itu kemungkinan berlanjut pekan depan,” ujar Ibrahim, Minggu (24/5/2026).
Kenaikan dolar AS dipicu sejumlah sentimen global. Salah satunya berasal dari ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Federal Reserve. Investor global masih menunggu arah kebijakan terbaru The Fed terkait inflasi dan pertumbuhan ekonomi AS.
Selain itu, arus modal asing juga cenderung kembali masuk ke aset berbasis dolar karena dinilai lebih aman di tengah ketidakpastian global. Akibatnya, mata uang negara berkembang termasuk rupiah mengalami tekanan cukup dalam.
Rupiah Berpotensi Sentuh Rp 18.000
Ibrahim menilai pelemahan rupiah belum mencapai titik akhir. Bahkan, ia melihat peluang kurs dolar AS mendekati Rp 18.000 apabila tekanan eksternal terus meningkat.
Menurutnya, kombinasi penguatan dolar AS dan tingginya permintaan valuta asing di pasar domestik membuat rupiah sulit bergerak stabil dalam jangka pendek.
Selain faktor eksternal, kebutuhan impor Indonesia yang tinggi juga memperbesar permintaan dolar AS. Kondisi ini menyebabkan nilai tukar rupiah semakin rentan ketika pasar global mengalami gejolak.
Pelaku pasar kini mulai mencermati langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah. Intervensi di pasar valas dan kebijakan suku bunga menjadi instrumen penting untuk menahan pelemahan mata uang Garuda.
Namun demikian, tekanan global yang sangat besar membuat ruang gerak bank sentral menjadi semakin terbatas.
Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam
Selain penguatan dolar AS, lonjakan harga minyak mentah dunia turut memperberat tekanan terhadap rupiah. Ibrahim memperkirakan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) bergerak pada kisaran US$ 92,60 hingga US$ 105,50 per barel.
Kenaikan harga minyak terjadi akibat memanasnya konflik geopolitik di berbagai kawasan dunia. Perang Rusia dan Ukraina kembali memicu kekhawatiran pasar energi global setelah serangan terhadap fasilitas energi dan kilang minyak meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
Di saat bersamaan, ketegangan di kawasan Timur Tengah juga memperburuk situasi pasar komoditas energi dunia.
“Ia masih melihat serangan Israel ke Lebanon Selatan dan Jalur Gaza memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas Timur Tengah,” kata Ibrahim.
Ketidakpastian geopolitik membuat pasokan energi global berpotensi terganggu. Akibatnya, harga minyak melonjak dan mendorong biaya impor energi semakin mahal bagi negara pengimpor seperti Indonesia.
Konflik Timur Tengah Pengaruhi Pasar Keuangan
Konflik geopolitik tidak hanya memengaruhi harga minyak, tetapi juga mengubah arah pergerakan pasar keuangan global. Investor kini cenderung mengalihkan dana ke aset aman seperti dolar AS dan emas.
Pasar juga mencermati perkembangan negosiasi antara AS dan Iran terkait pembukaan akses Selat Hormuz. Jalur tersebut menjadi salah satu titik penting distribusi minyak dunia.
Jika negosiasi berjalan positif, pasar memperkirakan distribusi minyak global dapat kembali stabil. Namun, apabila ketegangan meningkat, harga minyak berpotensi melonjak lebih tinggi.
Situasi ini membuat pelaku pasar bergerak hati-hati dalam mengambil keputusan investasi. Volatilitas pasar keuangan global pun semakin tinggi.
Defisit Transaksi Berjalan Jadi Masalah Utama
Di sisi lain, Ibrahim menilai akar persoalan pelemahan rupiah bukan hanya berasal dari faktor global. Ia menyoroti persoalan struktural ekonomi Indonesia, terutama defisit transaksi berjalan yang masih bergantung pada impor energi.
Menurutnya, Indonesia masih membutuhkan impor minyak mentah dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan domestik. Kondisi tersebut menyebabkan permintaan dolar AS terus meningkat.
“Akar pelemahan rupiah berasal dari defisit transaksi berjalan yang bersifat struktural,” ujarnya.
Indonesia saat ini mengimpor sekitar 1,5 juta barel minyak per hari. Ketergantungan tersebut membuat posisi rupiah semakin rapuh ketika harga minyak dunia naik tajam.
Semakin tinggi harga minyak global, maka kebutuhan dolar AS untuk impor energi juga meningkat. Dampaknya, tekanan terhadap nilai tukar rupiah menjadi semakin berat.
APBN 2026 Terancam Terbebani
Lonjakan harga minyak dan pelemahan rupiah juga berpotensi memengaruhi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Pemerintah sebelumnya menetapkan asumsi dasar makro APBN 2026 dengan kurs rupiah sebesar Rp 16.500 per dolar AS dan harga minyak di level US$ 70 per barel.
Namun, kondisi pasar saat ini menunjukkan harga minyak bergerak jauh di atas asumsi pemerintah. Jika harga minyak bertahan di atas US$ 90 per barel, maka pemerintah membutuhkan tambahan anggaran yang besar untuk subsidi dan impor energi.
Kondisi tersebut dapat memperlebar defisit anggaran negara apabila tidak diantisipasi sejak dini.
Selain itu, pelemahan rupiah juga membuat biaya pembayaran utang luar negeri meningkat. Pemerintah dan korporasi harus menyiapkan dana lebih besar untuk membayar kewajiban dalam mata uang asing.
Harga Emas Dunia Ikut Menguat
Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, harga emas dunia juga bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat. Investor mulai memburu emas sebagai aset lindung nilai untuk menghadapi risiko geopolitik dan tekanan ekonomi global.
Ibrahim melihat harga emas masih memiliki peluang naik apabila konflik global terus memanas dan dolar AS tetap kuat.
Permintaan emas biasanya meningkat ketika pasar mengalami ketidakpastian tinggi. Kondisi tersebut membuat logam mulia kembali menjadi pilihan investasi aman bagi investor global.
Selain emas, investor juga mulai memperhatikan pergerakan obligasi pemerintah AS sebagai instrumen investasi yang dinilai lebih stabil.
Bank Indonesia Hadapi Tantangan Berat
Situasi global yang penuh tekanan membuat Bank Indonesia menghadapi tantangan besar dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Di satu sisi, bank sentral perlu menjaga daya tarik investasi agar modal asing tidak keluar dari pasar domestik. Namun di sisi lain, BI juga harus mempertimbangkan dampak suku bunga tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Kondisi ini membuat kebijakan moneter harus berjalan lebih hati-hati. Stabilitas kurs rupiah menjadi salah satu fokus utama untuk menjaga kepercayaan pasar.
Pelaku usaha dan masyarakat kini berharap kondisi global segera membaik agar tekanan terhadap rupiah dapat mereda. Jika konflik geopolitik terus meningkat dan harga minyak tetap tinggi, maka risiko pelemahan rupiah masih akan berlanjut hingga beberapa bulan mendatang.
Pantau terus berita terbaru, informasi akurat, dan perkembangan terkini hanya di suaro minang dot co. Jangan lewatkan update penting setiap harinya untuk tetap terinformasi dan waspada.
Editor : Putra Piasaulu
Sumber : Kontan.co.id